Tidak ada
satupun partai politik di dunia dapat eksis tanpa ideologi. Studi
ideologi baik secara teoritik maupun secara empirik merupakan bahagian yang
penting untuk melihat perbedaan antara partai politik yang satu dengan partai
politik yang lain. Ideologi merupakan jantung sentral, magnet electoral
partai, branding partai, sumbu utama untuk mempersatukan cita-cita. Ideologi
merupakan factor yang menggerakan sumbu utama partai.
Ideologi
merupakan sumbu kehidupan partai politik.” Tetapi kalau berbicara diindonesia
semakin kemari spectrum ideologi semakin ke tengah. Ketika mereka para politisi
berdebat di parlemen basis pertarungan politk mereka bukan lagi alasan
ideologis, tetapi kepentingan pragmatis dan transaksional (Politik kartel).
Dengan ideologi inilah pertarungan gagasan dari partai politik sehingga
menjadi platform serta isu
kemasan untuk mempengaruhi sehingga pemilih nantinya memilih sebuah partai
misalnya. Dengan ideologi yang dimiliki oleh partai politik maka penigkatan
kualitas demokrasi juga akan semakin bagus. Karena dengan ideologi yang muncul
dipermukaan publik akan menentukan bagi pemilih, mana kader dari usungan partai
politik sesuai dengan harapan pemilih nantinya.
Istilah
”ideologi” pertama kali dipergunakan oleh Antoine Destutt de Tracy (1754-1836)
pada abad ke-18 meskipun pada hakikatnya akar maknanya dapat dirunut ke
belakang pada masa Francis Bacon (1561- 1626), Niccolo Machiavelli (1469-1520),
dan Plato (429- 347 SM).
De Tracy memaknai ideologi sebagai ilmu pengetahuan tentang ide-ide.
Ideologi, menurutnya, adalah dasar bagi pendidikan dan ketertiban moral (moral order). Ideologi dalam kacamata positif dilihat
sebagai suatu ilmu yang melampaui prasangka-prasangka agama dan metafisika,
serta menjadi landasan bagi penentuan aturan moral. Kosakata ideologi yang
dipergunakan oleh de Tracy memiliki akar historis dari tradisi pencerahan
Prancis yang menganut pandangan bahwa akal adalah alat untuk mewujudkan
kebahagiaan yang utama.
Secara lebih detail, Steger (2002) mendefenisikan ideologi sebagai suatu
sistem sebaran ide, kpercayaan (beliefs) yang
membentuk sistem nilai, dan norma serta sistem peraturan (regulation) ideal yang diterima sebagai fakta dan
kebenaran oleh kelompok tertentu. Dan ketika dikemas untuk mendapatkan
kekuasaan dalam masyarakat agar dapat mempengaruhi kebijakan publik dapat
dikatakan bahwa ideologi tersebut adalah ideologi politik
Menurut Lane (1962) ideologi politik dicirikan oleh: pertama ideologi
politik berkaitan dengan pertanyaan siapa yang akan memimpin ? bagaimana
mereka dipilih ? dan dengan prinsip-prinsip apa mereka memimpin ? kedua,
ideologi mengandung banyak sekali argumen untuk persuasi atau juga melawan (counter) ideologi yang berlawanan, ketiga ideologi
sangat memengaruhi banyak sekali aspek kehidupan manusia, mulai aspek ekonomi,
pendidikan kesejahteraan, kesehatan dan sebagainya. Keempat ideologi sangat
berkait hal-hal yang penting dalam kehidupan sosial, baik mengajukan program
ataupun menentangmya. Kelima ideologi mencoba merasionalisasikan kepentingan
kelompok sehingga kepentingan tersebut beralasan dan layak diperjuangkan.
Keenam, ideologi bersikan hal-hal yang bersifat normatif, etis, dan moral.
Sejalan dengan itu Mc Closky (1964) mendefenisikam ideologi politik
sebagai system
of belief that are elaborate, integrated, and coherent, that justify the
exercise of power, explain and judge historical event, identify political right
and wrong, set forth the interconnections (causal and moral) between politics
and othe sphere of activity.
Menurut Geertz (1973: 220) ideologi politik adalah maps
of problematic social reality and matrices for the creation of collective
conscieousness. Sementara itu Sartori (1964: 402) mengemukakan ideologi politik sebagai
suatu hal yang typically
dogmatic, ie rigid and impermeable, approach to politics. Sedangkan
Mullins (1974: 235) melihat ideologi politik sebagai a
logically coherent system of symbol which, within a more or less sophisticated
conception history, links the cognitive and evaluation perception of ones
social conditions-especeially its prospect of the future to aprogram of
collective action for the maintenance alteration, or transformation of society.
Pemahamaan tentang ideologi politik yang lebih berorientasi pada aksi
diberikan oleh Seliger (1976: 11), ia mendefensikan ideologi politik sebagai set
of ideas by which menposit, explain and justify ends and means of organized
social action, and specifically political action, irrespective whether such
actions aims to prserve, amend, unproot or rebuild agiven social order. Sementara
itu Thompson (2004) melihat bahwa dalam ideologi politik termuat sistem
pemikiran, sistem keyakinan dan sistem simbol yang berhubungan dengan tindakan
sosial dan praktik politik. Ideologi politik hadir dalam setiap program
politik, langsung ataupun tidak langsung dan sadar ataupun tidak sadar, sera
menjadi ciri khas setiap gerakan organisasi politik.
Secara sadar ideologi dalam suatu partai politik merupakan landasan ide atau dasar sehingga partai politik tersebut memiliki warna atau pembeda (difrent) dengan partai yang lainnya. Partai politik tidak mungkin lahir secara spontanitas tanpa didasari oleh ideologi, serta cita-cita yang sama
Secara sadar ideologi dalam suatu partai politik merupakan landasan ide atau dasar sehingga partai politik tersebut memiliki warna atau pembeda (difrent) dengan partai yang lainnya. Partai politik tidak mungkin lahir secara spontanitas tanpa didasari oleh ideologi, serta cita-cita yang sama
Fontes
http://www.negarahukum.com/