Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Minggu, 24 Februari 2019

Referensia : POLITIK SEBAGAI PANGGILAN

Relevansi Pemikiran Politik Max Weber
Imajinasi politik masyarakat dalam konteks kekinian diwarnai oleh dua hal yakni apatis dan partisipatif. Apatis politik merupakan persoalan akut jika dilihat dari kaca mata politik sebagai salah satu cara (media) membawa kesejahteraan hidup bagi banyak orang. Kenapa demikian? Kita hidup dalam dunia yang segala dimensi digerakkan oleh faktor politik. Hal ini kemudian memaksa semua individu untuk secara imperatif terlibat aktif dalam kehidupan politik. Bukan hanya demi memperbaiki tatanan kenegaraan tetapi juga kesejahteraan sosial masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, ruang apatis tidak dikehendaki dalam kehidupan bernegara.
Triangulasi Pemikiran Politik Max Weber
Max Weber berpandangan bahwa politik itu merupakan panggilan dasariah seorang manusia. Hal ini termuat dalam pemikirannya tentang politic as vocation, politik sebagai panggilan. Pandangan Max Weber ini merupakan triangulasi dari aspek negara, otoritas, dan rasa proporsional. Sederhananya Max Weber mau mengatakan bahwa negara harus memegang monopoli artinya negara tidak tunduk pada kelompok-kelompok tertentu. Monopoli ini lebih bermakna etis dengan tetap memperhatikan nilai demokrasi kebangsaan. Negara harus dijalankan oleh sistem (birokrasi) legal dan rasional. Hal ini berarti bahwa seorang birokrat menjalankan fungsinya dengan baik yang sangat menjunjung tinggi tanggungjawab. Selain itu, Weber mangatakan bahwa negara tidak hanya cukup dijalankan oleh birokrat tetapi juga harus dijalankan secara bersama oleh para politisi yang mempunyai rasa proporsionalitas yakni kemampuan untuk menghadapi kenyataan, sekalipun bertentangan dengan apa yang diidealkan, seraya tetap tenang dan penuh pertimbangan. Weber juga menambahkan bawa seorang politis harus menjunjung tinggi kualitas moral yang berkaitan dengan keyakinan moral (moral conviction) dan tanggungjawab pribadi (the moral of personal responsibility).
Relevansi Politik Sebagai Panggilan Dalam Konteks Kekinian
Apa relevansi politik sebagai panggilan menurut Max Weber? Menurut penulis ada tiga poin yang bisa dijadikan garis linear sumbangsih pemikiran Weber. 
1.     Pertama, tanggungjawab moril birokrat. Weber memahami politisi secara luas yakni individu yang mempunyai tanggungjawab langsung dan tidak langsung terhadap negara. Dengan demikian, aparatur negara merupakan politisi. Ia dengan tegas mengatakan bahwa negara harus dikelola secara legal dan rasional oleh birokrasi. Polisi, militer dan PNS adalah bagian dari birokrasi yang wajib menjalankan tugas negara tanpa mencampurkannya dengan pilihan politik pribadi. Birokrasi harus bekerja secara legal dan rasional dan lepas dari kepentingan politik manapun. Negara gagal ketika birokrasi mulai menjadi kekuatan tersendiri yang tidak netral atau memihak ke salah satu kubu. 
2.     Kedua, kualitas seorang politisi. Seorang politisi harus menempatkan politik sebagai sebuah panggilan, sehingga ia memiliki semangat atau gairah, dan tanggung jawab. Seorang politisi harus bersemangat untuk mengejar satu tujuan. Dia harus memiliki komitmen, terutama kepada masyarakat. Semangat atau gairah ini pulalah yang menyebabkan dia menjadi penguasa yang absah. Setiap politisi harus memiliki gairah untuk menyelesaikan suatu ‘misi’ dan bergerak sepenuh hati untuk mewujudkannya. Politisi yang menganggap politik sebagai panggilan juga harus memiliki rasa tanggungjawab. Tanggungjawabnya itu merupakan kekuatan untuk mewujudkan cita-cita yang menjadi semangatnya. 
3.     Ketiga, rasa proporsional, yakni kemampuan untuk menghadapi kenyataan, sekalipun bertentangan dengan apa yang diinginkan, seraya tetap tenang dan penuh pertimbangan. Seorang politisi tidak akan cepat panik, yang akan menciptakan kabut ketika dia harus membuat keputusan dengan jernih.
Politisi yang menganggap politik bukan sebagai sebuah panggilan sangat berbahaya. Alasannya, jika ini terjadi maka, politisi tersebut akan jatuh pada pragmatisme yakni individu yang menjunjung tinggi kepentingan pribadi, memakai kekayaan untuk mencari pengaruh, politisi yang menggunakan segala cara untuk menang, bahkan dengan menipu rakyat lewat pelintiran kebencian terhadap kelompok lain.
Beberapa bulan dari sekarang kita akan melakukan pemilihan presiden dan legislatif. Dua pasang calon presiden telah resmi ditetapkan. Aktivitas politik paling besar yang diselenggarakan lima tahun sekali ini dibuka dengan deklarasi damai yang diikuti oleh kedua kubu. Jika kita bisa memahami ketiga pokok pikiran penting dari uraian tadi, maka kita akan menjalani Pemilihan Presiden kali ini dengan bermartabat. Dan secara lebih jauh, kita bisa menjadi manusia politis yang partisipatif.
https://abn-nasdem.id
www.abn-nasdem.id