Relevansi Pemikiran
Politik Max Weber
Imajinasi
politik masyarakat dalam konteks kekinian diwarnai oleh dua hal yakni apatis
dan partisipatif. Apatis politik merupakan persoalan akut jika dilihat dari
kaca mata politik sebagai salah satu cara (media) membawa kesejahteraan hidup
bagi banyak orang. Kenapa demikian? Kita hidup dalam dunia yang segala dimensi digerakkan
oleh faktor politik. Hal ini kemudian memaksa semua individu untuk secara
imperatif terlibat aktif dalam kehidupan politik. Bukan hanya demi memperbaiki
tatanan kenegaraan tetapi juga kesejahteraan sosial masyarakat pada umumnya.
Dengan demikian, ruang apatis tidak dikehendaki dalam kehidupan bernegara.
Triangulasi
Pemikiran Politik Max Weber
Max
Weber berpandangan bahwa politik itu merupakan panggilan dasariah seorang
manusia. Hal ini termuat dalam pemikirannya tentang politic as vocation,
politik sebagai panggilan. Pandangan Max Weber ini merupakan triangulasi dari
aspek negara, otoritas, dan rasa proporsional. Sederhananya Max Weber mau
mengatakan bahwa negara harus memegang monopoli artinya negara tidak tunduk
pada kelompok-kelompok tertentu. Monopoli ini lebih bermakna etis dengan tetap
memperhatikan nilai demokrasi kebangsaan. Negara harus dijalankan oleh sistem
(birokrasi) legal dan rasional. Hal ini berarti bahwa seorang birokrat
menjalankan fungsinya dengan baik yang sangat menjunjung tinggi tanggungjawab.
Selain itu, Weber mangatakan bahwa negara tidak hanya cukup dijalankan oleh
birokrat tetapi juga harus dijalankan secara bersama oleh para politisi yang
mempunyai rasa proporsionalitas yakni kemampuan untuk menghadapi kenyataan,
sekalipun bertentangan dengan apa yang diidealkan, seraya tetap tenang dan
penuh pertimbangan. Weber juga menambahkan bawa seorang politis harus
menjunjung tinggi kualitas moral yang berkaitan dengan keyakinan moral (moral
conviction) dan tanggungjawab pribadi (the moral of personal
responsibility).
Relevansi
Politik Sebagai Panggilan Dalam Konteks Kekinian
Apa
relevansi politik sebagai panggilan menurut Max Weber? Menurut penulis ada tiga
poin yang bisa dijadikan garis linear sumbangsih pemikiran Weber.
1.
Pertama, tanggungjawab moril birokrat. Weber memahami
politisi secara luas yakni individu yang mempunyai tanggungjawab langsung dan
tidak langsung terhadap negara. Dengan demikian, aparatur negara merupakan
politisi. Ia dengan tegas mengatakan bahwa negara harus dikelola secara legal
dan rasional oleh birokrasi. Polisi, militer dan PNS adalah bagian dari
birokrasi yang wajib menjalankan tugas negara tanpa mencampurkannya dengan
pilihan politik pribadi. Birokrasi harus bekerja secara legal dan rasional dan
lepas dari kepentingan politik manapun. Negara gagal ketika birokrasi mulai
menjadi kekuatan tersendiri yang tidak netral atau memihak ke salah satu
kubu.
2.
Kedua, kualitas seorang politisi. Seorang politisi
harus menempatkan politik sebagai sebuah panggilan, sehingga ia memiliki
semangat atau gairah, dan tanggung jawab. Seorang politisi harus
bersemangat untuk mengejar satu tujuan. Dia harus memiliki komitmen, terutama
kepada masyarakat. Semangat atau gairah ini pulalah yang menyebabkan dia
menjadi penguasa yang absah. Setiap politisi harus memiliki gairah untuk
menyelesaikan suatu ‘misi’ dan bergerak sepenuh hati untuk
mewujudkannya. Politisi yang menganggap politik sebagai panggilan juga
harus memiliki rasa tanggungjawab. Tanggungjawabnya itu merupakan kekuatan untuk
mewujudkan cita-cita yang menjadi semangatnya.
3.
Ketiga, rasa proporsional, yakni kemampuan untuk
menghadapi kenyataan, sekalipun bertentangan dengan apa yang diinginkan, seraya
tetap tenang dan penuh pertimbangan. Seorang politisi tidak akan cepat panik,
yang akan menciptakan kabut ketika dia harus membuat keputusan dengan jernih.
Politisi yang menganggap
politik bukan sebagai sebuah panggilan sangat berbahaya. Alasannya, jika
ini terjadi maka, politisi tersebut akan jatuh pada pragmatisme yakni individu yang
menjunjung tinggi kepentingan pribadi, memakai kekayaan untuk mencari
pengaruh, politisi yang menggunakan segala cara untuk menang, bahkan
dengan menipu rakyat lewat pelintiran kebencian terhadap kelompok lain.
Beberapa
bulan dari sekarang kita akan melakukan pemilihan presiden dan
legislatif. Dua pasang calon presiden telah resmi ditetapkan. Aktivitas
politik paling besar yang diselenggarakan lima tahun sekali ini dibuka dengan
deklarasi damai yang diikuti oleh kedua kubu. Jika kita bisa memahami ketiga
pokok pikiran penting dari uraian tadi, maka kita akan menjalani Pemilihan
Presiden kali ini dengan bermartabat. Dan secara lebih jauh, kita bisa
menjadi manusia politis yang partisipatif.
https://abn-nasdem.id
www.abn-nasdem.id