Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Selasa, 03 Mei 2016

Kebiasaan Seorang Pemimpin

Kepemimpinan bukanlah perkara mudah karena inti dari kepemimpinan itu sangat erat berhubungan dengan dinamika hubungan antara manusia. Dinamika itu sendiri berkaitan dengan kata dinamit, sebuah daya ledak tinggi, yang selalu menggerakan orang untuk menciptakan perubahan. 

Kehebatan seorang pemimpin terletak dalam cara dia mengelola emosi pribadi dan bagaimana membina hubungan dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini berlaku baik bagi anda yang memiliki title atau jabatan, maupun yang tidak memegan jabatan tertentu. Seperti disebut Wikipedia kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi atau menggerakkan orang lain untuk mencapai cita-cita atau tujuan tertentu. 
Anda barangkali saat memimpikan untuk menjadi pemimpin baik perusahaan kecil, organisasi kecil maupun dalam skala yang besar. Atau mungkin anda sedang beranjak dari staf biasa menjadi seorang superviser atau manajer bagian. Sebelum melangkah lebih jauh, 

Cek terlebih dahulu apakah anda memiliki TUJUH kebiasaan berikut ini. 
  1. Suka menolong, Banyak orang mengira menjadi pemimpin itu pertama-tama kepiawaian merangkai kata (public speaking) atau memiliki ide cermerlang. Pertama dan utama seorang pemimpin harus memiliki jiwa seorang penolong. Seorang pemimpin adalah seorang penolong. Dia menolong orang dengan membuka pikiran mereka, mencetuskan ide-ide inovatif, dsb, dan membantu mereka mencapai tujuan bersama maupun tujuan pribadi mereka. 
  2. Tidak defensif Pemimpin bukan manusia setengah dewa. Dia juga memiliki banyak kekurangan. Namun jika anda membangun mekanisme pertahanan diri dan tidak membuka diri terhadap kritikan atau tidak mau mengakui kesalahan atau kekurangan, sangat tidak bagus bagi seorang pemimpin. Sebaliknya jika anda terbuka terhadap masukan dari orang lain dan tidak mati-matian mempertahankan pendapat anda –meskipun kurang tepat- anda bisa menjadi pemimpin. 
  3. Tidak membangun batas Antara seorang pemimpin dan pengikut terdapat jalinan ikatan emosional. Pikirkan ini: orang mengikuti anda karena mereka merasa ‘senasib dan seperjuangan’ atau mereka merasa bahwa anda merupakan tipe yang mereka inginkan sebagai pemimpin. Orang tidak menginginkan komunikasi yang paling sempurna. Akan tetapi dengan tidak membangun jurang pemisah sebenarnya kita membuka diri terhadap orang lain. Jika anda selalu menjaga gengsi pribadi dan tidak mau bergaul dengan orang, tidak bersedia ditemui, tidak menumbuhkan rasa persahabatan dengan orang lain, Anda bisa menyimpulkan layak atau tidak menjadi pemimpin. 
  4. Berani menanggung risiko Apakah anda seorang yang pantang mundur (risk taker) ketika berhadapan dengan kesulitan atau seorang yang lari dari tanggungjawab? Jika anda ketika ditugaskan untuk mengambil alih sebuah kasus yang sulit menghadapinya dengan penuh percaya diri, anda memiliki kualitas seorang pemimpin. Namun jika anda melarikan diri dari tanggungjawab dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal untuk membenarkan diri, anda bukan tipe seorang pemimpin yang bisa diandalkan. Karena, seringkali kepemimpinan seseorang itu akan tampak jelas ketika berhadapan dengan situasi sulit. 
  5. Berani mengambil keputusan Kapan terakhir anda mengambil keputusan besar yang membuat anda harus membuat pilihan yang sangat bermakna, misalnya meninggalkan kebiasaan buruk dan mengadopsi perubahan? Misalnya berhenti merokok, berhenti mengonsumsi alkohol, dsb. Keputusan itu memang sulit, tapi harus dilakukan. Seperti itulah seorang pemimpin. Dia harus berani mengambil keputusan yang barangkali akan membuat orang lain tidak senang, tetapi itu yang harus dilakukan. 
  6. Tidak diskriminatif Anda mungkin pintar. Tapi ada hal-hal yang membuat seseorang terbelenggu dalam perangkap prejudis atau bias terhadap sekelompok orang, suku, agama, atau gender. Jika dalam mengambil keputusan kita didominasi oleh bias atau diskriminatif dan tidak inklusif, kita jatuh ke dalam masalah klasik, di mana keputusan kita tidak independen. Seorang pemimpin yang baik tidak akan melakukan propaganda hitam atau merendahkan orang lain. 
  7. Tidak pernah berhenti belajar Anda punya banyak gelar akademik? Tidak apa-apa. Namun semuanya akan menjadi masalah ketika kita berhenti belajar. Kita menganggap bahwa dengan menduduki posisi puncak kita sudah tahu banyak. Karena itu tidak perlu belajar. Itu keliru besar. Belajar yang dimaksud tidak harus menempuh pendidikan formal ke jenjang yang paling tinggi. Jika memungkinkan, itu adalah kesempatan yang sangat bagus. Seorang pemimpin adalah seorang pembelajar (constant learner). Dia akan terus mempelajari hal-hal baru sehingga tetap menjadi yang terdepan. Seorang pemimpin disebut pemimpin inovatif jika terus menerus belajar. Apalagi di era teknologi informasi yang terus menerus berkembang, seorang pemimpin harus bisa beradaptasi dengan teknologi, terutama internet dan media sosial.