Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Senin, 02 Mei 2016

Referensia : Menanti Era Baru Politik Santun

<b>
Pencitraan politik, kini memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pentas politik di tanah air. Citra politik seseorang dapat diciptakan, dibangun dan diperkuat melalui proses kognitif dan afektif.  Semua kegiatannya tentu saja tak berlepas dari media massa.
Salah satu bentuk pencitraan yang dilakukan oleh para elit politik adalah “Politik Santun”. Pendekatan itu sangat besar pengaruhnya  di tengaj budaya Indonesia yang mengunggulkan cita rasa tinggi (high-context culture). Sebenarnya, politik santun telah lama menjadi bagian dinamika kehidupan perpolitikan
Socrates menyebutkan bahwa politik adalah kesantunan. Politik adalah martabat dan harga diri sehingga dalam berpolitik seseorang harus memiliki keutamaan moral. Prakteknya, politik adalah ilmu dan seni yang berorientasi pada upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Jadi, manakala kepentingan masyarakat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat terabaikan maka sesungguhnya hal ini telah menodai politik itu sendiri.
Politik santun dan kesantunan berpolitik bukanlah sekedar wacana. Hal itu bisa diwujudkan dengan modal sebuah dorongan dan tekad bulat mempraktekkan politik yang bermoral dan santun dalam bingkai kesungguhan hati, kejernihan berpikir serta keberanian untuk memulai.
Apa yang dapat dicontoh oleh masyarakat jika elit politiknya sibuk “berkelahi” meributkan hal-hal yang tidak krusial. Apa pula yang dapat dibanggakan oleh masyarakat terhadap elit politiknya yang tidak memiliki rasa peduli atau empati atas keadaan masyarakat. Alih-alih mengurus masyarakat, elit politik justru asyik “bermain-main” memanfaatkan jurus aji mumpung yang dimilikinya.


Andai saja, Socrates masih ada tentu ia akan menjadi orang yang paling sibuk. Sebab, tentu ia akan disibukkan dengan aktivitas mengajarkan kepada para politisi bagaimana cara berpolitik yang santun dan santun berpolitik. Atau, seandainya Socrates masih ada kira-kira apa yang akan ia lakukan ketika melihat banyak elit politik yang tidak santun dalam berpolitik.
Fontes : Rumah Komunikasi
Bahan Bacaan :
Firmansyah, 2007, Marketing Politik, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Venus, Antar, 2004.  Manajemen Kampanye : Panduan Teoritis dan Praktis dalam Mengefektifkan Kampanye Komunikasi, Bandung : Simbiosa Rekatama Media.